| SANGGAR SENI NGESTI BUDAYA |
|
|
|
| Written by HENI (KKP dekase) |
| Thursday, 01 April 2010 23:11 |
|
SANGGAR SENI NGESTI BUDAYA (Sanggar Seni Kursus Pedalangan dan Karawitan)
Sanggar Seni Ngesti Budaya adalah Sanggar Seni yang didirikan pada tanggal 17 April 1958. Sanggar ini merupakan sanggar paling tua di Kota Semarang, dan masyarakat pada umumnya mengatakan bahwa sanggar ini masih paling asli dari sanggar – sanggar yang lain. Pendiri Sanggar Seni Ngesti Budaya adalah Ki Sindu Sawarno (Kepala Kebudayaan Jawa Tengah). Kemudian ditanggapi oleh Raden Mas Gunadi Adi Saputro, FX. Sutono, Sutamkin Mulyono Carito, dan Seniman-seniman yang lainnya hingga akhirnya berdirilah Sanggar Seni Ngesti Budaya ini.
Ngesti Budaya didirikan untuk menampung siapa saja yang ingin berkreatifitas dan mempunyai bakat serta keinginan untuk mempelajari kesenian Jawa khususnya seni karawitan dan pedalangan. Ngesti Budaya itu sendiri berarti ”Kreatifitas dan Pikiran Manusia”. Dia memohon kepada Tuhan supaya kreatifitas manusia itu bisa berguna dalam masyarakat. Sanggar ini berdiri karena dulunya Semarang tidak ada kursus pedalangan, hingga akhirnya didirikan sanggar tersebut yang masih aktif hingga sekarang. Dulunya sanggar ini diketuai oleh Raden Mas Gunadi Adi Saputro. Setelah itu diganti oleh Nyonya Rahati Subeno pada tahun 1984 – 1986, kemudian setelah Rahati meninggal digantikan oleh Widarto Setiowardono tahun 1986 – 1996, tahun 1996 – 2000. Sanggar ini diketuai oleh Supadi Somo Wijoyo, dan setelah itu hingga sekarang diketuai oleh Kanjeng Raden Tumenggung Ki Soeparno Hadipuro. Sanggar seni ini selalu berpindah – pindah tempat, karena memang Sanggar Seni Ngesti Budaya tidak disediakan tempat khusus dari pemerintah. Tahun 1958 – 1986, sanggar ini bertempat di Gris (Jalan Pemuda), tahun 1986 – 1992 di Tegal Sari (Balai Desa), tahun 1992 – 1996 di Cipta Karya (Kantor PU), tahun 1996 – 2000 di Ex Penerangan (Jalan Pemuda), dan tahun 2000 – sekarang di rumah Ki Soeparno Hadiatmodjo. Soeparno memang menyediakan tempat khusus di dalam rumahnya untuk latihan pedalangan, karena memang tidak ada tempat yang memadai yang diberikan oleh pemerintah. Beberapa kali Soeparno mengajukan kepada pemerintah kota Semarang untuk menyediakan tempat bagi Sanggar Ngesti Budaya. Namun keinginannya itu tidak pernah tercapai hingga sekarang. Terpaksa latihan pedalangan dan karawitan harus dilakukan ditempat yang sempit di salah satu sudut rumahnya. Peralatan yang digunakan untuk latihan pun sudah mulai rusak. Soeparno berharap agar pemerintah memperhatikan dan melaksanakan apa yang diinginkannya. Pemerintah agar memberikan tempat yang memadai, karena untuk melakukan suatu proses kesenian terutama pedalangan dan karawitan, kalau tempatnya memadai akan lebih enak dan lebih baik. Anggota dalam Sanggar Seni Ngesti Budaya ini ada 48 orang. Terdiri dari 38 orang pengurus sanggar dan 10 orang siswa kursus pedalangan. Kegiatan para siswa adalah mempelajari teori dunia pedalangan, karena wayang itu tidak akan keluar dengan sendirinya. Harus ada tuntunan dan mengalir mengikuti alunan seni musik karawitannya. ”Wayang itu baik dan sudah diakuioleh dunia. Jadi, kita harus selalu mempelajari. Agar kesenian Jawa tidak tenggelam di zaman yang semakin maju ini”. Tutur Soeparno. Biaya kursus yang dibebankan oleh para siswa selama satu bulan adalah Latihan rutin diadakan setiap Jum’at malam pukul 20.00 – 23.00, dan biasanya masyarakat sekitar juga ikut latihan. Sedangkan kursus karawitan diadakan pada Rabu malam di gedung DPRD. Dan sekarang sanggar Seni Ngesti Budaya sedang membuka kursus bahasa Jawa, kursus Sinden dan kursus Macapatan. Alat – alat yang biasanya digunakan untuk latihan dan pentas karawitan serta pedalangan adalah seperangkat gamelan, wayang, sound sistem, rebab, siter, gawangan untuk kelir pentas dan geber. Lagu – lagu yang dinyanyikan dalam karawitan sudah ada patokannya. Pagi, lagu yang dinyanyikan adalah lagu – lagu yang bisa menggugah selera orang untuk bekerja mencari nafkah. Siang menyanyikan lagu – lagu gembira. Dan sore, lagu yang dinyanyikan adalah lagu – lagu yang agak tenang. Pementasan yang pernah digelar Sanggar Seni Ngesti Budaya adalah : pentas karawitan di DPRD, pentas wayang di Kantor Gubernur, pentas wayang di rumah pimpinan Grahadika setiap hari Kamis jam 1 – 3 siang, pentas untuk acara ruwatan, dan pentas untuk acara ulang tahun Sanggar Ngesti Budaya. Dalam waktu dekat, sanggar ini sedang mempersiapkan pentas yang digelar di halaman rumah Ki Soeparno pada tanggal 27 Februari 2010 mendatang, dan pementasan pada tanggal 17 April 2010 dalam acara ulang tahun sanggar yang ke 52 tahun. Nama : Sanggar Seni Kursus Pedalangan Ngesti Budaya Alamat : Tegal Sari Barat V No. 12 Semarang Telp : (024) 8504216 |
| Last Updated on Friday, 02 April 2010 22:55 |




