| Mengangkat Pamor Gambang Semarang |
|
|
|
| Written by dekase |
| Wednesday, 23 December 2009 14:01 |
|
"Pemerintah siap memberikan wadah pertunjukkan, tetapi kami menunggu kesiapan para seniman," kata Ketua Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Agung Prijo Oetomo dalam Sarasehan Kesenian Gambang Semarang di Kampung Wisata Taman Lele Semarang, Minggu (29/3). Pembicara dalam sarasehan itu adalah budayawan AL Agus Supriyanto, pengajar tari Institut Seni Indonesia Surakarta S Pamardi, dan Gunawan Budi Susanto dari Suara Merdeka. Pertunjukan gambang semarang turut mengisi acara yang diadakan Disbudpar Kota Semarang dan Tim Kesenian Kota Semarang itu. Menurut Agung, perlu kerja sama antara pemerintah, sekolah, seniman, dan tempat pariwisata atau hotel. Disbudpar berencana menggelar pertunjukan gambang semarang atau kesenian tradisional lain pada waktu tertentu di hotel berbintang.
"Selain membangun peluang pertunjukan, semua pihak perlu bekerja sama meregenerasi para seniman muda," kata Agung. Dia menyebutkan Disbudpar Kota Semarang menganggarkan Rp 200 juta untuk mengembangkan berbagai kesenian tradisional. Sekolah sebagai lembaga pendidikan berperan penting untuk mengajak siswa mengenal dan mencintai gambang semarang. Disbudpar juga merangkul para seniman yang ada untuk mengatasi keterbatasan pelatih gambang semarang. Agus Supriyanto mengatakan, pengenalan melalui pendidikan di sekolah, lokakarya dan pelatihan gambang semarang cukup untuk membangkitkan kembali kesenian yang sudah ada di Semarang sejak tahun 1930 ini. "Harus ada rutinitas sehingga roh kesenian itu muncul kembali dan masyarakat membutuhkan kesenian itu," kata Agus. Semangat memudar Ketua Tim Kesenian Kota Semarang Yoyok B Priyambodo mengatakan, timnya sudah melatih gambang semarang di lima kecamatan di Kota Semarang. Yoyok mengaku ingin memperluas pelatihan di kecamatan lain. Namun, tidak banyak warga yang bersemangat untuk berlatih. Meskipun latihan itu tanpa memungut biaya, masyarakat enggan menekuni kesenian karena bidang ini tidak menguntungkan secara materi. (DEN) (Sumber gabungan dari:Kompas Cetak Senin, 30 Maret 2009 dan semarang.go.id) |
| Last Updated on Thursday, 11 March 2010 15:41 |




Kesenian gambang semarang adalah salah satu kesenian di Indonesia yang mulai luntur dan terlupakan. Kerja sama antar lembaga perlu untuk mengangkat kembali ikon budaya Kota Semarang itu. Kerja sama tersebut melibatkan seniman dan pemerintah yang menyediakan wadah pertunjukan. Kesenian ini merupakan perpaduan antara tari dengan diiringi alat musik dari bilah-bilah kayu dan gamelan jawa yang biasa disebut “Gambang” . Muncul pada event-event tertentu : Festival Dugderan, Festifal Jajan Pasar. Gambang Semarang telah ada sejak tahun 1930 dengan bentuk paguyuban yang anggotanya terdiri dari pribumi dan peranakan Cina dengan mengambil tempat pertunjukan di gedung Pertemuan Bian Hian Tiong di Gang Pinggir. Jenis alat musik yang dipakai adalah kendang, bonang, kempul, gong, suling, kecrek, gambang serta alat musik gesek (konghayan/tohyan/biola). Disamping musik ada penari dan penyanyi/vokalis.